BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa kata-kata merupakan ucapan realitas konkret dan abstrak (maujudat) yang menjadi objek mantiq. Karena mantiq sebagai alat untuk menuju ilmu yang benar, atau karena ilmu yang benar perlu pengarahan mantiq, maka karena itulah ilmu mantiq dikatakan ilmu segala yang benar atau yang sering disebut bapak dari segala ilmu.
B. Rumusan Masalah
apa arti lafazh?
Berapa pembagian lafazh?
Apa yang dimaksud dengan Mafhum dan Mashadaq
Apa hubungannya dua lafazh kulli?
Bagaimana contoh mengenai pembahasan pembentukan konsep?
C. Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami mengenai lafazh
Untuk mengetahui dan memahami pembagian lafazh
Untuk mengetahui dan memahami mafhum dan mashadaq
Akan mengetahui dan memahami hubungan dua lafazh kulli
BAB II
PEMBAHASAN
A. LAFAZH
1. Definisi Lafazh
Lafadz adalah suatu nama yang diberikan pada huruf-huruf yang tersusun atau susunan beberapa huruf yang mengandung arti, kalau bahasa Indonesia disebut kata, seperti kayu, batu, air, dan lain-lain. Kata lafadz berasal dari bahasa Arab yang berarti kata dalam bahasa Indonesia.
2. Pembagian Lafazh
a) Lafazh Mufrad (مفرد )
Lafazh mufrad terdiri dari dua kata yaitu, lafazh dan Mufrad. Lafazh artinya kata-kata, sedangkan Mufrad artinya satu. Dalam istilah ilmu mantiq, lafazh adalah kata-kata yang tidak mempunyai bagian yang masing-masing bagian itu menunjuk kepada makna yang dikandungnya sendiri.
v Berdasarkan bagian-bagian kata
Berdasarkan bagian-bagian katanya lafazh mufrad terbagi menjadi :
1) Lafazh yang tidak mempunyai suku kata sama sekali, misalnya lafazh yang terdiri dari satu huruf. Contoh Wa artinya dan (bahasa Arab). U artinya kelapa (bahasa Aceh). I artinya air (bahasa Aceh). Wa artinya dan (bahasa Arab)
2) Lafazh yang mempunyai bagian kata (huruf), tetapi jika dipisahkan, bagian itu tidak mempunyai arti sama sekali. Contoh : Huruf Ba pada lafazh Baabun (bahasa Arab), huruf Tha dalam kata Thalibun. Tha bukan huruf ma’ani (punya arti) tetapi suku kata.
3) Lafazh yang mempunyai bagian yang dapat menunjukkan suatu arti, tetapi arti itu bukan yang dimaksud oleh kata tersebut. Contohnya : عبد الله (Abdullah), هرير ابو (Abu Hurairah) tidak diartikan bapak kucing, tetapi nama seseorang bernama Abu Hurairah.
4) Lafazh yang mempunyai bagian yang dapat menunjukkan suatu arti, tetapi bukan arti yang dimaksud. Contoh: نَاطِق حَيَوَانٌ masing – masing kata ini mengandung arti sendiri yaitu hewan yang berpikir, tetapi yang dimaksudkan adalah satu yaitu Insan.
v Berdasarkan jenisnya
Apabila dilihat jenisnya, pengkajian lafadz Mufrad terdiri dari tiga macam, yaitu :
1) Isim ; adalah lafazh (kata-kata) yang mempunyai arti sendiri tanpa terikat dengan waktu, seperti: masjid, madrasah, rumah, gunung dan sebagainya.
2) Fi’il (perbuatan) adalah lafazh (kata-kata) yang mempunyai suatu arti sendiri yang terikat dengan waktu ( lampau, sekarang, yang akan datang). Seperti : dzahaba =sudah pergi, Yadzhabu = sedang pergi dll.
3) Adat adalah kata yang dapat menunjukkan suatu arti yang sempurna secara mandiri. Contoh: `an (dari) , wa (dan), ila (ke) dll.
v Dari segi ada dan tidak adanya realitas
1) Muhashal adalah lafazh mufrad yang menunjuk kepada suatu benda yang ada atau suatu sifat yang ada. Contoh : 1) Kota, sungai, neraka, surga. (suatu yang ada) 2) Alot, dermawan, sombong. (sifat yang ada)
2) Ma’dul adalah Lafazh mufrad yang menunjuk kepada ketidakadaan sesuatu atau ketidakadaan sifat (kebalikan Muhashal). Contoh : 1) Bukan kota, bukan Jakarta, tidak neraka (ketidakadaan benda) ; 2) Tidak pelit, tidak sombong, tidak jujur (ketidakadaan sifat)
3) ‘Adami adalah lafazh mufrad yang menunjuk kepada ketidakadaan sifat yang lazimnya ada. Contoh : 1) Buta menunjuk kepada pengertian tidak melihat, padahal melihat adalah suatu sifat yang lazimnya ada pada manusia ataupun hewan ; 2) Tuli menunjuk kepada pengertian tidak mendengar, padahal mendengar adalah salah satu sifat yang lazimnya ada pada hewan dan manusia.
b) Lafazh Murakkab (مركب)
Lafazh murakkab terdiri dari dua kata yaitu Lafazh dan Murakkab. Lafzah artinya kata-kata dan murakkab artinya disusun atau dirangkai. Jadi, lafazh murakkab artinya kata-kata yang disusun atau dirangkai baik dari 2, 3, 4, ataupun lebih dari itu.
· Pembagian Lafazh Murakkab
1) Lafazh Murakkab Tam, adalah kata-kata yang dirangkai atau disusun sedemikian rupa sehingga memberi pengertian yang lengkap. Dalam bahasa Indonesia, murakkab tam disebut kalimat efektif atau kalimat sempurna.
Contoh : Drs. H. Humam adalah Bapak Dosen Ilmu Pendidikan Islam STIT al-Muslihuun Tlogo Blitar. Monas adalah bangunan tertinggi di Jakarta.
Adapun lafazh Murakkab Tam terbagi menjadi beberapa bagian,diantaranya :
· Murakkab Khabari, adalah murakkab tam yang isinya mungkin benar dan mungkin juga salah (mengandung keraguan). Contoh : nanas itu sejenis buah-buahan, besi itu logam.
· Murakkab Insya’i, adalah murakkab yang di dalamnya tidak terkandung keraguan mengenai kebenaran dan tidakkebenarannya. Di dalamnya pembahasannya pada umumnya bentuk perintah, larangan dan ajakan. Contoh : Pergilah ke luar negeri untuk menambah pengalaman (amr).Jangan lekas putus asa dalam menghadapi lenyataan (nahyi). Apakah anda telah melaksanakan kewajiban dengan baik (istifham).
2) Lafazh Murakkab Naqish, adalah suatu kalimat yang maknanya tidak sempurna, sehingga pendengar tidak mengerti maksudnya. Contoh : –Orang sombong itu, seorang pemulung, pujaan hati
B. MAFHUM DAN MASHADAQ
1. Definisi Mafhum dan Mashdaq
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa lafadz Isim, dilihat dari cakupan maknanya, ada yang kulli dan juz’i. Isim kulli ini dilihat dari segi penunjuk (dilalah) maknanya kepada realitas yang dituju oleh makna tersebut, diistilahkan dengan mafhum dan mashdaq.
Takrif mafhum adalah makna atau pengertian yang ditunjukkan oleh lafadz kulli. Contoh “orang yang belajar di perguruan tinggi”, sebagaimana makna atau pengertian dari kata “mahasiswa”. Sedangkan Takrif mashadaq adalah individu-individu yang ditinjau oleh makna atau pengertian itu. Contoh arief, Ida dan nama lainnya sebagai mahasiswa.
2. Kaidah Mafhum Dan Mashadaq.
Jika mafhum kulli ditambah, semakin berkurang mashdaq-nya. Contoh : “Mahasiswa IAIN”, maka yang bukan mahasiswa IAIN tidak termasuk. Akan tetapi, jika “mahasiswa” (tidak ditambah dengan IAIN) mencakup individu mahasiswa perguruan tinggi lain, selain IAIN.
Kaidah yang semakna dengan kaidah tersebut dalam bentuk redaksi lainnya adalah banyaknya ikatan mafhum akan menyempitkan mashadaq-nya.
C. PERLAWANAN KATA-KATA (TAQABAL AL-ALFZH)
Taqabul adalah dua lafadz yang tidak bisa berkumpul dalam satu tempat dan satu waktu, misalnya: hadhir (حاضر) dan ghaib (غائب), hitam (اسود) dan putih (ابيض) , anak dan ayah. Contoh lafadz-lafadz ini disebut mutaqabalah. Dua lafadz yang mutaqabalah ialah dua lafadz yang tidak berkumpul dalam satu tempat dan satu zaman.
Taqabul itu ada tiga bagian, yaitu:
1. Taqabul naqidhaini (تقابل النقيضين) adalah perbandingan dua lafadz yang positif dan negatif yang tidak bisa berkumpul dalam satu tempat dan satu waktu secara bersamaan serta keduanya tidak bisa hilang secara bersamaan. Misalnya: Insan dan La Insana
2. Taqabul dhiddaini (تقابل الضدٌين) adalah perbandingan dua lafadz yang tidak bisa berkumpul dalam satu tempat dan satu zaman secara bersamaan serta bisa hilang keduanya. Misalnya: Baju ini bukan warna hitam dan juga bukan warna putih tetapi warna merah.
Penjelasan:
Kedua lafadz yakni hitam dan putih ini tidak bisa berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat secara bersamaan dan bisa hilang keduanya karena masih ada pilihan warna yang lain
3) Taqabul mutadhayifayni (تقابل المتضايفين) adalah perbandingan dua lafadz yang tidak mungkin masuk akal salah satu dari keduanya tanpa yang lain, contoh: suami dan istri, guru dan murid. Dari contoh lafadz-lafadz ini dapat diketahui bahwa dua lafadz tersebut, salah satu dari keduanya tidak bisa berpisah dari yang lain
4. D. HUBUNGAN ANTARA DUA LAFADZ KULLI
Dari penjelasan berbagai macam bentuk lafadz-lafadz yang antara satu dengan yang lain memiliki keserasian dalam arti, jika dalam kenyataan terdapat dua lafadz kully yang memerlukan adanya perbandingan maka, yang terlihat adalah lima corak perbandingan, yaitu:
1) Taraduf, yaitu membandingkan dua lafadz kully yang keadaan mafhum dan mashdaqnya sama[2].
Hal ini dapat dianalogikan dengan dua lingkaran yang satu diletakkan persis diatas yang lain dalam keadaan sama persis secara sempurna.
Contoh: kata Nar (النار) dan sya’ir (السعير) yaitu neraka,
kata pensil dan potlot adalah alat untuk menulis
2) Tasawiy yaitu, memperbandingkan dua lafadz kully yang mashdaqnya sama tapi mafhumnya berbeda.
Hal ini dapat dianalogikan dengan dua lingkaran, yang satu diletakkan persis diatas yang lain dalam keadan hampir sama.
Contoh: kata sekolah dan gedung tempat anak-anak didik
Penjelasan:
Mafhum dari ungkapan ini berbeda, yaitu:
- Kata sekolah, mafhumnya adalah tempat belajar
- Kata gedung tempat anak didik, mafhumnya adalah sarana belajar
Mashdaqnya sama, yaitu al-Insan atau manusia.
3) Tabayyun yaitu, memperbandingkan dua lafadz kully yang keadaan mafhum dan mashdaqanya berbeda. Perbandingan yang seperti ini yang paling banyak.
Hal ini dapat dianalogikan dengan dua lingkaran yang terpisah satu dari yang lain.
Contoh: Kata Manusia dan pohon
Kata gunung dan laut
Penjelasan:
Sebab semua wilayah dua lafadz kully tersebut berbeda-beda. Karena itulah, tidak ada satupun manusia yang pohon, dan tidak ada satupun pohon yang manusia, karena pohon sama sekali tidak mencakup wilayah manusia, dan sebaliknya. Dan begitu juga gunung dan laut.
4) Umum-Khusus Muthlak yaitu, membandingkan dua lafadz kully yang sescara mutlak keadaan lafadz yang satu lebih umum dari yang lainnya.
Hal ini dapat dianalogikan dengan dua lingkaran yang satu lebih besar dan mencakup keseluruhan yang lebih kecil.
Contoh: kata manusia dan hewan.
Penjelasan; seluruh manusia adalah hewan, dan tidak semua hewan itu manusia, akan tetapi sebagian hewan itu manusia.
5) Umum-Khusus Min Wajhin yaitu memperbandingkan dua lafadz kully yang jika di lihat dari satu sisi, kully yang pertama lebih umum dari kully yang kedua, akan tetapi dari sisi lain kully yang kedua lebih umum daripada kulli yang pertama, maksudnya adalah dua lafadz kully yang masing-masing dari keduanya dapat diterapkan pada afrad kully yang lain, kondisi kully yang pertama dapat diterapkan padanya kully yang afrad, dimana kully kedua tidak dapat diterpkan padanya. Begitu juga sebaliknya, sehingga satu sama lain mempunyai sebagian wilayah yang berbeda.
Hal ini dapat dianalogikan dengan dua lingkaran yang keadaannya saling memotong lingkaran yang lain.
Contoh: Kata bunga dan merah
Penjelasan:
Dua lafadz ini, dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda, yaitu:
- sisi pertama, kata bunga lebih umum, mengingat bunga itu ada yang tidak merah, tetapi juga ada yang putih dan kuning.
- Sisi kedua, kata merah lebih umum dari bunga, karena yang merah itu, tidak hanya bunga, tetapi bisa juga pada baju, topi, kain, dan sebagainya.
Sabtu, 08 April 2017
artikel Kebudayaan Lokal sebagai Media Dakwah
Dakwah dan Budaya Lokal
Oleh Husna Ginanisa
C. Kebudayaan Lokal sebagai Media Dakwah
Manusia/kelompok menghasilkan Ide tersebar Media Budaya
Ahli kebudayaan menurut Kroeber dan Kluckhohn
deskriptif: cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya
historis : cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya
normatif: bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku;
psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya
struktural: mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret
genetis: budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Bagian ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut.
Menurut Selo Semardjan dan Soelaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Secara sosiologis tiap manusia dalam hidupnya senantiasa memiliki kebudayaan.
Para dai seperti Wali Songo datang dengan membawa pesan-pesan Islam ke daerah-daerah yang menyebarkan Islam menggunakan Wayang. Wayang purna atau wayang kulit diciptakan tiga serangkai Wali sebagai media dakwah. Dalam pertunjukan setiap lakon ada adegan yang sangat digemari penonton yaitu “gara-gara”. adegan “gara-gara” dilakukan dilakukan pada tengah malam atau mundur sedikit. Fungsi adegan “gara-gara” pada waktu pergantian waktu tersebut untuk menunjukan sejarah pergantian Jawa-Hindu/Nusantara-Hindu menjadi Jawa/Nusantara-Islam. Dalam sistem sosial terdapat komunikasi, salah satu kebutuhan pokok manusia, berkaitan dengan komunikasi, Ahmad Subandi (1994:118) menegaskan dakwah merupakan kegiatan yang memiliki prinsip yang komunikatif; transpormatif dan adaptif. Kegiatan transpormatif karena dakwah selalu mentranspormasi ajaran agama untuk difahami, disikapi dan diwujudkan dalam prilaku keseharian para pemeluknya. Dan adaptif karena dakwah pada karakternya harus memperhatikan kondisi di mana dakwah itu berlangsung. Dengan adanya wayang, Islam menyebar keseluruh pulau Jawa. Peranan dalang yang piawai dalam berkomunikasi/ beretorika yang mempertunjukan keseniannya membuat para penonton menikmatinya. Sejarah membuat para mad’u bisa menerima Islam dengan mudah.
Ceramah, khotbah, dan pengajian; seperti pengajian mingguan, pengajian bulanan, pengajian tahunan termasuk budaya lokal. Berbagai suku, tabligh dapat dijadikan sarana berdakwah. Seorang da’i yang berdakwah dalam lingkungan masyarakat tertentu harus memilah ragam bahasa yang cocok dengan masyarakat lingkungan tersebut.Dr.Robert Peebeboon menyatakan,”katakanlah hal-hal biasa dalam bahasa biasa”. apa yang disampaikan seorang juru dakwah harus dapat dan mudah oleh jama’ahnya, sebab itulah Rasulullah selalu menyampaikan khotbah secara singkat, tidak bertele-tele, beliau selalu memberi contoh keefektifan suatu khotbah singkat tetapi padat. Dampaknya jama’ah akan mudah menyerap dan jama’ah akan tertarik pada dakwah yang menarik isinya dan sederhana bahasanya.
Adat istiadat memberikan petunjuk, asalkan kita tidak membatasi diri pada pola prilaku esoterik yang sesuai adat istiadat tertentu. Dalam mengamati prilaku yang berkenaan dengan adat istiadat bentuk yang paling harus diperhatikan dalam berbahasa dalam komunikasi. Upacara adat sebagai media untuk menyampaikan risalah TuhanNya. Momentum Walimah bisa dijadikan media dakwah diantaranya; Walimatul urusy, khitanan, safar, haul, ceramah walimah haul, aqiqah, bina dll.
Qalam dan kaligrafi, tidak hanya berdakwah dengan ucapan tulisanpun bisa digunakan dalam berdakwah. Media ini memiliki peran yang sangat penting untuk berdakwah. Hal ini telah dibuktikan dengan turunnya kitab Al-Qur’an dan Hadist keduanya berdasarkan pola dalam pemberantasan buta ilmu dan baca tulis. Berdasarkan kenyataan tersebut, hendaklah ada sekelompok juru dakwah yang memiliki keterampilan dan pengetahuan publistik, karang-mengarang, pemberitaan dan penyiaran ajaran Islam untuk menyukseskan dakwah.
Masrah dan Malhamah sebenarnya mempunyai maksud yang sama. Masrah di sini pementasan pertunjukkan sedang malhamah berarti drama.pada saat sekarang masrah berbentuk sandiwara, pragmen, lawak, dan lainnya. Dilihat dari bentuknya masrah dapat menarik dan mengesankan setiap penonton, hal ini merupakan wujud dari audio visual yang dapat menghibur penonton dan tidak membosankan, oleh karena itu dalam pertunjukan bisa digunakan sebagai media dakwah. Untuk merealisasikan tersebut perlu ada seseorang atau kelompok yang mampu menanganinya di jaman sekarang bentuk masrah itu seperti kosidah, Zamroh, Shalawatan, Sandiwara dan Pragmen.
Grup shalawat dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan kesenian yang bernuansa Islam kepada khalayak.Alat-alat yang menunjang kelancaran kegiatan seperti shalawat; rebana, gabus, tamtam atau gendang. Lirik syair shalawat terdapat syair-syair yang mengingatkan kita tentang dosa, merupakan syair-syair sufi karena lirik-liriknya mengandung ajaran masyarakat, seperti masalah kesabaran, amalan yang kita diterima di sisi Allah tanpa diiringi rasa ikhlas, kalau amalan tidak diterima dll, jadi semua dari syir-syair Grup Shalawatan mengandung makna dan nilai dan nilai untuk menggiring masyarakat pada jalan yang benar juga sebagai pendidikan dan merupakan ungkapan-ungkapan rasa cinta pada rasul sebagai cahaya alam penunjuk kebenaran.
Sastra Melayu dan Hikayat. Menurut Abdul Hadi WM, dalam sastra Melayu semua karya berbentuk prosa pada umumnya disebut hikayat,dari kata Arab yang artinya literalnya ialah kisah atau cerita. Media ini bisa dijadikan alat untuk berdakwah kepada seluruh usia, kerena semua manusia cenderung menyukai cerita.
Berdasarkan prinsip al-Hikmah dan al-qabri, Wali Songo memanfatkan seni budaya lokal (seni suara, seni karawitan, dan wayang) sebagai media dakwah. Sebagaimana dimaklumi dakwah bahwa seni suara lokal jawa berupa tembang. Pada masa Islam-Demak masyarakat umumnya menggunakan tembang gede, sebuah seni suara Jawa-Hindu. Lagu-lagunya antaralain, Blabag, Tlutur, Gurisa dan pamularsih. Sebagai media dakwah tambang gede kurang praktis dan kurang menarik, karena itu Wali Janget Tinelon( Tiga serangkai Wali) Sunan Kali Jaga, Sunan Giri dan Sunan Bonang , mengganti dengan tambang macapat dengan lagu-lagunya yang terkenal, antara lain, Dandanggula, Sinom, Pangkur, Durma, Kinanti, Megatruh, Maskumambang, dan Asmarandana. Pada masa sekarang tembang macapat masih ditemukan juga dalamkhazanah seni suara Sunda dan Madura. Hal ini menunjukan luasnya sebaran seni suara Jawa-Islam kreasi Tiga Serangkai Wali tersebut. Dengan demikian tembang macapat menjadikan paduan antra nilai-nilai Jawa Hindu (tembang gede), dengan nilai Islam. Secara umum subtansi tembang macapat memaparkan tentang amalan-ibadah dan cara agar mencapau kesempurnaanya, baik ibadah muqaiyadah maupun mutlaqah. Islam mengajarkan agar ibadah mencapai kesempurnaan.
Daftar Pustaka
Sunarto Kamanto.2004.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Fakultas Ekonomi UI
Munir Amir Samsul.2009.Ilmu Dakwah.Jakarta:AMZAH
Aripudin Acep.2013.Sosiologi Dakwah.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Alfian.1985.Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan.Jakarta:PT Gramedia
Muchtar Rusdi.2009.Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia.PT.Nusantaralestari Ceriapratama
A.Ki Moesa Machfoeld.2004.Filsafat Dakwah.Jakarta:PT Bulan Bintang
Oleh Husna Ginanisa
C. Kebudayaan Lokal sebagai Media Dakwah
Manusia/kelompok menghasilkan Ide tersebar Media Budaya
Ahli kebudayaan menurut Kroeber dan Kluckhohn
deskriptif: cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya
historis : cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya
normatif: bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku;
psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya
struktural: mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret
genetis: budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Bagian ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut.
Menurut Selo Semardjan dan Soelaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Secara sosiologis tiap manusia dalam hidupnya senantiasa memiliki kebudayaan.
Para dai seperti Wali Songo datang dengan membawa pesan-pesan Islam ke daerah-daerah yang menyebarkan Islam menggunakan Wayang. Wayang purna atau wayang kulit diciptakan tiga serangkai Wali sebagai media dakwah. Dalam pertunjukan setiap lakon ada adegan yang sangat digemari penonton yaitu “gara-gara”. adegan “gara-gara” dilakukan dilakukan pada tengah malam atau mundur sedikit. Fungsi adegan “gara-gara” pada waktu pergantian waktu tersebut untuk menunjukan sejarah pergantian Jawa-Hindu/Nusantara-Hindu menjadi Jawa/Nusantara-Islam. Dalam sistem sosial terdapat komunikasi, salah satu kebutuhan pokok manusia, berkaitan dengan komunikasi, Ahmad Subandi (1994:118) menegaskan dakwah merupakan kegiatan yang memiliki prinsip yang komunikatif; transpormatif dan adaptif. Kegiatan transpormatif karena dakwah selalu mentranspormasi ajaran agama untuk difahami, disikapi dan diwujudkan dalam prilaku keseharian para pemeluknya. Dan adaptif karena dakwah pada karakternya harus memperhatikan kondisi di mana dakwah itu berlangsung. Dengan adanya wayang, Islam menyebar keseluruh pulau Jawa. Peranan dalang yang piawai dalam berkomunikasi/ beretorika yang mempertunjukan keseniannya membuat para penonton menikmatinya. Sejarah membuat para mad’u bisa menerima Islam dengan mudah.
Ceramah, khotbah, dan pengajian; seperti pengajian mingguan, pengajian bulanan, pengajian tahunan termasuk budaya lokal. Berbagai suku, tabligh dapat dijadikan sarana berdakwah. Seorang da’i yang berdakwah dalam lingkungan masyarakat tertentu harus memilah ragam bahasa yang cocok dengan masyarakat lingkungan tersebut.Dr.Robert Peebeboon menyatakan,”katakanlah hal-hal biasa dalam bahasa biasa”. apa yang disampaikan seorang juru dakwah harus dapat dan mudah oleh jama’ahnya, sebab itulah Rasulullah selalu menyampaikan khotbah secara singkat, tidak bertele-tele, beliau selalu memberi contoh keefektifan suatu khotbah singkat tetapi padat. Dampaknya jama’ah akan mudah menyerap dan jama’ah akan tertarik pada dakwah yang menarik isinya dan sederhana bahasanya.
Adat istiadat memberikan petunjuk, asalkan kita tidak membatasi diri pada pola prilaku esoterik yang sesuai adat istiadat tertentu. Dalam mengamati prilaku yang berkenaan dengan adat istiadat bentuk yang paling harus diperhatikan dalam berbahasa dalam komunikasi. Upacara adat sebagai media untuk menyampaikan risalah TuhanNya. Momentum Walimah bisa dijadikan media dakwah diantaranya; Walimatul urusy, khitanan, safar, haul, ceramah walimah haul, aqiqah, bina dll.
Qalam dan kaligrafi, tidak hanya berdakwah dengan ucapan tulisanpun bisa digunakan dalam berdakwah. Media ini memiliki peran yang sangat penting untuk berdakwah. Hal ini telah dibuktikan dengan turunnya kitab Al-Qur’an dan Hadist keduanya berdasarkan pola dalam pemberantasan buta ilmu dan baca tulis. Berdasarkan kenyataan tersebut, hendaklah ada sekelompok juru dakwah yang memiliki keterampilan dan pengetahuan publistik, karang-mengarang, pemberitaan dan penyiaran ajaran Islam untuk menyukseskan dakwah.
Masrah dan Malhamah sebenarnya mempunyai maksud yang sama. Masrah di sini pementasan pertunjukkan sedang malhamah berarti drama.pada saat sekarang masrah berbentuk sandiwara, pragmen, lawak, dan lainnya. Dilihat dari bentuknya masrah dapat menarik dan mengesankan setiap penonton, hal ini merupakan wujud dari audio visual yang dapat menghibur penonton dan tidak membosankan, oleh karena itu dalam pertunjukan bisa digunakan sebagai media dakwah. Untuk merealisasikan tersebut perlu ada seseorang atau kelompok yang mampu menanganinya di jaman sekarang bentuk masrah itu seperti kosidah, Zamroh, Shalawatan, Sandiwara dan Pragmen.
Grup shalawat dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan kesenian yang bernuansa Islam kepada khalayak.Alat-alat yang menunjang kelancaran kegiatan seperti shalawat; rebana, gabus, tamtam atau gendang. Lirik syair shalawat terdapat syair-syair yang mengingatkan kita tentang dosa, merupakan syair-syair sufi karena lirik-liriknya mengandung ajaran masyarakat, seperti masalah kesabaran, amalan yang kita diterima di sisi Allah tanpa diiringi rasa ikhlas, kalau amalan tidak diterima dll, jadi semua dari syir-syair Grup Shalawatan mengandung makna dan nilai dan nilai untuk menggiring masyarakat pada jalan yang benar juga sebagai pendidikan dan merupakan ungkapan-ungkapan rasa cinta pada rasul sebagai cahaya alam penunjuk kebenaran.
Sastra Melayu dan Hikayat. Menurut Abdul Hadi WM, dalam sastra Melayu semua karya berbentuk prosa pada umumnya disebut hikayat,dari kata Arab yang artinya literalnya ialah kisah atau cerita. Media ini bisa dijadikan alat untuk berdakwah kepada seluruh usia, kerena semua manusia cenderung menyukai cerita.
Berdasarkan prinsip al-Hikmah dan al-qabri, Wali Songo memanfatkan seni budaya lokal (seni suara, seni karawitan, dan wayang) sebagai media dakwah. Sebagaimana dimaklumi dakwah bahwa seni suara lokal jawa berupa tembang. Pada masa Islam-Demak masyarakat umumnya menggunakan tembang gede, sebuah seni suara Jawa-Hindu. Lagu-lagunya antaralain, Blabag, Tlutur, Gurisa dan pamularsih. Sebagai media dakwah tambang gede kurang praktis dan kurang menarik, karena itu Wali Janget Tinelon( Tiga serangkai Wali) Sunan Kali Jaga, Sunan Giri dan Sunan Bonang , mengganti dengan tambang macapat dengan lagu-lagunya yang terkenal, antara lain, Dandanggula, Sinom, Pangkur, Durma, Kinanti, Megatruh, Maskumambang, dan Asmarandana. Pada masa sekarang tembang macapat masih ditemukan juga dalamkhazanah seni suara Sunda dan Madura. Hal ini menunjukan luasnya sebaran seni suara Jawa-Islam kreasi Tiga Serangkai Wali tersebut. Dengan demikian tembang macapat menjadikan paduan antra nilai-nilai Jawa Hindu (tembang gede), dengan nilai Islam. Secara umum subtansi tembang macapat memaparkan tentang amalan-ibadah dan cara agar mencapau kesempurnaanya, baik ibadah muqaiyadah maupun mutlaqah. Islam mengajarkan agar ibadah mencapai kesempurnaan.
Daftar Pustaka
Sunarto Kamanto.2004.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Fakultas Ekonomi UI
Munir Amir Samsul.2009.Ilmu Dakwah.Jakarta:AMZAH
Aripudin Acep.2013.Sosiologi Dakwah.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Alfian.1985.Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan.Jakarta:PT Gramedia
Muchtar Rusdi.2009.Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia.PT.Nusantaralestari Ceriapratama
A.Ki Moesa Machfoeld.2004.Filsafat Dakwah.Jakarta:PT Bulan Bintang
Jumat, 07 April 2017
Makalah Komunikasi Kelompok
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan bersosial, kita sebagai manusia tidak dapat untuk tidak berkomunikasi “We can’t not communicate”. Sama hal nya pada saat kita berkelompok. Komunikasi seakan menjadi ruh dalam jasad sebuah kelompok.
Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi sukses atau gagalnya suatu kelompok/komunitas bergantung pada komunikasinya. Seberapa intens dan efektif suatu komunikasi dapat dibangun. Dalam komunikasi kelompok kita harus mengetahui pengertian, sifat, klasifikasi dan lain-lain yang termasuk kedalam unsur-unsur komunikasi kelompok.
Saat ini, banyak permasalahan yang terjadi di kalangan sebuah kelompok dan inti masalahnya adalah kurangnya komunikasi. Permasalahan komunikasi yang terjadi pun tak hanya intern saja tapi juga eksternalnya. Oleh karena itu penulis akan memaparkan hal tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas, Maka dari itu, penulis mencari informasi dan menyusun makalah mengenai materi komunikasi kelompok ini yang mudah-mudahan bisa menambahkan wawasan kita mengenai salah satu dari bentuk komunikasi ini. Hal ini pun merupakan salah satu upaya pemenuhan tugas mata kuliah Teori Komunikasi.
1.2 Rumusan masalah
Agar penulisan makalah ini tersusun secara sistematis dan terarah, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Kelompok ?
1.2.2 Apa saja Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya ?
1.2.3 Bagaimana Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi ?
1.2.4 Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
1.3 Tujuan
Semua aktifitas yang dilakukan tentunya harus mempunyai tujuan yang jelas, sehingga diharapkan akan memperoleh hasil yang maksimal dan tentu saja dalam proses di dalamnya pun membutuhkan langkah-langkah konkret yang sistematis. Adapun tujuan penulisan makalah ini secara detail adalah sebagai berikut :
1.3.1 Mengetahui arti Komunikasi Kelompok
1.3.2 Mengetahui Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya
1.2.3 Mengetahui Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi
1.3.4 Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok.
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Dan B. Curtis, James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, h. 149) menyatakan komunikasi kelompok terjani ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan mempengaruhi satu sama lain. Lebih mendalam ketiga ilmuwan tersebut menjabarkan sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
2. Kelompok memiliki sedikit partisipan;
3. Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4. Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
5. Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain.
2.2 Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya.
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder adalah sebaliknya.
Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.
2.3 Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi
1. Konformitas.
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
2. Fasilitasi sosial.
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
3. Polarisasi.
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
Jalaluddin Rakhmat (2004) meyakini bahwa faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:
1. Faktor situasional karakteristik kelompok:
a. Ukuran kelompok.
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi krja kelompok bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok. Tugas kelompok dapat dibedakan dua macam, yaitu tugas koaktif dan interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara teroganisasi untuk menghasilkan suatu produk, keputusan, atau penilaian tunggal. Pada kelompok tugas koatif, jumlah anggota berkorelasi positif dengan pelaksanaan tugas. Yakni, makin banyak anggota makin besar jumlah pekerjaan yang diselesaikan. Misal satu orang dapat memindahkan tong minyak ke satu bak truk dalam 10 jam, maka sepuluh orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam satu jam. Tetapi, bila mereka sudah mulai berinteraksi, keluaran secara keseluruhan akan berkurang.
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan kelompok memelukan kegiatan konvergen (mencapai suatu pemecahan yang benar), hanya diperlukan kelompok kecil supaya produktif, terutama bila tugas yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas. Bila tugas memerlukan kegiatan yang divergen (seperti memhasilkan gagasan berbagai gagasan kreatif), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar.
Dalam hubungan dengan kepuasan, Hare dan Slater (dalam Rakmat, 2004) menunjukkan bahwa makin besar ukuran kelompok makin berkurang kepuasan anggota-anggotanya. Slater menyarankan lima orang sebagai batas optimal untuk mengatasi masalah hubungan manusia. Kelompok yang lebih dari lima orang cenderung dianggap kacau, dan kegiatannya dianggap menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok.
b. Jaringan komunikasi.
Terdapat beberapa tipe jaringan komunikasi, diantaranya adalah sebagai berikut: roda, rantai, Y, lingkaran, dan bintang. Dalam hubungan dengan prestasi kelompok, tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.
c. Kohesi kelompok.
Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankam bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal.
Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan anggota kelompok, makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang devian.
d. Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White danLippit (1960). Mereka mengklasifikasikan tiga gaya kepemimpinan: otoriter; demokratis; dan laissez faire. Kepemimpinan otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang seluruhnya ditentukan oleh pemimpin. Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan. Kepemimpinan laissez faire memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi dengan partisipasi pemimpin yang minimal.
2. Faktor personal karakteristik kelompok:
a. Kebutuhan interpersonal
William C. Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:
1) Ingin masuk menjadi bagian kelompok (inclusion).
2) Ingin mengendalikan orang lain dalam tatanan hierakis (control).
3) Ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
b. Tindak komunikasi
Mana kala kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha menyampaiakan atau menerima informasi (secara verbal maupun nonverbal). Robert Bales (1950) mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak komunikasi, yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis (IPA).
c. Peranan
Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171) meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai berikut:
1) Peranan Tugas Kelompok. Tugas kelompok adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.
2) Peranan Pemiliharaan Kelompok. Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional anggota-anggota kelompok.
3) Peranan individual, berkenaan dengan usahan anggota kelompokuntuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak relevan dengantugas kelompok.
BAB III
KESIMPULAN
1. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984).
2. Tiga klasifikasi kelompok menurut para ahli : Kelompok primer dan sekunder, Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan dan Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif.
3. Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi : Konformitas, Fasilitas sosial dan Polarisasi.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok : Faktor situasional karakteristik kelompok dan Faktor personal karakteristik kelompok.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar, 1984, Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas, Bandung: Armico.
Mulyana, Deddy, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
http://latifahlia.blogspot.co.id/2014/03/makalah-komunikasi-kelompok.html?m=1
http://www.definisi-pengertian.com/2015/10/definisi-pengertian-komunikasi-kelompok.html?m=1
Langganan:
Komentar (Atom)