Sabtu, 08 April 2017

artikel Kebudayaan Lokal sebagai Media Dakwah

Dakwah dan Budaya Lokal
Oleh Husna Ginanisa

C. Kebudayaan Lokal sebagai Media Dakwah
Manusia/kelompok   menghasilkan      Ide    tersebar       Media           Budaya

Ahli kebudayaan menurut Kroeber dan Kluckhohn
deskriptif: cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya
historis : cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya
normatif: bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku;
psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya
struktural: mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret
genetis: budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Bagian ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut.
Menurut Selo Semardjan dan Soelaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Secara sosiologis tiap manusia dalam hidupnya senantiasa memiliki kebudayaan.

Para dai seperti Wali Songo datang dengan membawa pesan-pesan Islam ke daerah-daerah yang menyebarkan Islam menggunakan Wayang. Wayang purna atau wayang kulit diciptakan tiga serangkai Wali sebagai media dakwah. Dalam pertunjukan setiap lakon ada adegan yang sangat digemari penonton yaitu “gara-gara”. adegan “gara-gara” dilakukan dilakukan pada tengah malam atau mundur sedikit. Fungsi adegan “gara-gara” pada waktu pergantian waktu tersebut untuk menunjukan sejarah pergantian Jawa-Hindu/Nusantara-Hindu menjadi Jawa/Nusantara-Islam. Dalam sistem sosial terdapat komunikasi, salah satu kebutuhan pokok manusia, berkaitan dengan komunikasi, Ahmad Subandi (1994:118) menegaskan dakwah merupakan kegiatan yang memiliki prinsip yang komunikatif; transpormatif dan adaptif. Kegiatan transpormatif karena dakwah selalu mentranspormasi ajaran agama untuk difahami, disikapi dan diwujudkan dalam prilaku keseharian para pemeluknya. Dan adaptif karena dakwah pada karakternya harus memperhatikan kondisi di mana dakwah itu berlangsung. Dengan adanya wayang, Islam menyebar keseluruh pulau Jawa. Peranan dalang yang piawai dalam berkomunikasi/ beretorika yang mempertunjukan keseniannya membuat para penonton menikmatinya. Sejarah membuat para mad’u bisa menerima Islam dengan mudah.
Ceramah, khotbah, dan pengajian; seperti pengajian mingguan, pengajian bulanan, pengajian tahunan termasuk budaya lokal. Berbagai suku, tabligh dapat dijadikan sarana berdakwah. Seorang da’i yang berdakwah dalam lingkungan masyarakat tertentu harus memilah ragam bahasa yang cocok dengan masyarakat lingkungan tersebut.Dr.Robert Peebeboon menyatakan,”katakanlah hal-hal biasa dalam bahasa biasa”. apa yang disampaikan seorang juru dakwah harus dapat dan mudah oleh jama’ahnya, sebab itulah Rasulullah selalu menyampaikan khotbah secara singkat, tidak bertele-tele, beliau selalu memberi contoh keefektifan suatu khotbah singkat tetapi padat. Dampaknya jama’ah akan mudah menyerap dan jama’ah akan tertarik pada dakwah yang menarik isinya dan sederhana bahasanya.
Adat istiadat memberikan petunjuk, asalkan kita tidak membatasi diri pada pola prilaku esoterik yang sesuai adat istiadat tertentu. Dalam mengamati prilaku yang berkenaan dengan adat istiadat bentuk yang paling harus diperhatikan dalam berbahasa dalam komunikasi. Upacara adat sebagai media untuk menyampaikan risalah TuhanNya. Momentum Walimah bisa dijadikan media dakwah diantaranya;  Walimatul urusy, khitanan, safar, haul, ceramah walimah haul, aqiqah, bina dll.
Qalam dan kaligrafi, tidak hanya berdakwah dengan ucapan tulisanpun bisa digunakan dalam berdakwah. Media ini memiliki peran yang sangat penting untuk berdakwah. Hal ini telah dibuktikan dengan turunnya kitab Al-Qur’an dan Hadist keduanya berdasarkan pola dalam pemberantasan buta ilmu dan baca tulis. Berdasarkan kenyataan tersebut, hendaklah ada sekelompok juru dakwah yang memiliki keterampilan dan pengetahuan publistik, karang-mengarang, pemberitaan dan penyiaran ajaran Islam untuk menyukseskan dakwah.
Masrah dan Malhamah sebenarnya mempunyai maksud yang sama. Masrah di sini pementasan pertunjukkan sedang malhamah berarti drama.pada saat sekarang masrah berbentuk sandiwara, pragmen, lawak, dan lainnya. Dilihat dari bentuknya masrah dapat menarik dan mengesankan setiap penonton, hal ini merupakan wujud dari audio visual yang dapat menghibur penonton dan tidak membosankan, oleh karena itu dalam pertunjukan bisa digunakan sebagai media dakwah. Untuk merealisasikan tersebut perlu ada seseorang atau kelompok yang mampu menanganinya di jaman sekarang bentuk masrah itu seperti kosidah, Zamroh, Shalawatan, Sandiwara dan Pragmen.
Grup shalawat dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan kesenian yang bernuansa Islam kepada khalayak.Alat-alat yang menunjang kelancaran kegiatan seperti shalawat; rebana, gabus, tamtam atau gendang. Lirik syair shalawat terdapat syair-syair yang mengingatkan kita tentang dosa, merupakan syair-syair sufi karena lirik-liriknya mengandung ajaran masyarakat, seperti masalah kesabaran, amalan yang kita diterima di sisi Allah tanpa diiringi rasa ikhlas, kalau amalan tidak diterima dll, jadi semua dari syir-syair Grup Shalawatan mengandung makna dan nilai dan nilai untuk menggiring masyarakat pada jalan yang benar juga sebagai pendidikan dan merupakan ungkapan-ungkapan rasa cinta pada rasul sebagai cahaya alam penunjuk kebenaran.
Sastra Melayu dan Hikayat. Menurut Abdul Hadi WM, dalam sastra Melayu semua karya berbentuk prosa pada umumnya disebut hikayat,dari kata Arab yang artinya literalnya ialah kisah atau cerita. Media ini bisa dijadikan alat untuk berdakwah kepada seluruh usia, kerena semua manusia cenderung menyukai cerita.
Berdasarkan prinsip al-Hikmah dan al-qabri, Wali Songo memanfatkan seni budaya lokal (seni suara, seni karawitan, dan wayang) sebagai media dakwah. Sebagaimana dimaklumi dakwah bahwa seni suara lokal jawa berupa tembang. Pada masa Islam-Demak masyarakat umumnya menggunakan tembang gede, sebuah seni suara Jawa-Hindu. Lagu-lagunya antaralain, Blabag, Tlutur, Gurisa dan pamularsih. Sebagai media dakwah tambang gede kurang praktis dan kurang menarik, karena itu Wali Janget Tinelon( Tiga serangkai Wali) Sunan Kali Jaga, Sunan Giri dan Sunan Bonang , mengganti dengan tambang macapat dengan lagu-lagunya yang terkenal, antara lain, Dandanggula, Sinom, Pangkur, Durma, Kinanti, Megatruh, Maskumambang, dan Asmarandana. Pada masa sekarang tembang macapat masih ditemukan juga dalamkhazanah seni suara Sunda dan Madura. Hal ini menunjukan luasnya sebaran seni suara Jawa-Islam kreasi Tiga Serangkai Wali tersebut. Dengan demikian tembang macapat menjadikan paduan antra nilai-nilai Jawa Hindu (tembang gede), dengan nilai Islam. Secara umum subtansi tembang macapat memaparkan tentang amalan-ibadah dan cara agar mencapau kesempurnaanya, baik ibadah muqaiyadah maupun mutlaqah. Islam mengajarkan agar ibadah mencapai kesempurnaan.

Daftar Pustaka
Sunarto Kamanto.2004.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Fakultas Ekonomi UI
Munir Amir Samsul.2009.Ilmu Dakwah.Jakarta:AMZAH
Aripudin Acep.2013.Sosiologi Dakwah.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Alfian.1985.Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan.Jakarta:PT Gramedia
Muchtar Rusdi.2009.Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia.PT.Nusantaralestari Ceriapratama
A.Ki Moesa Machfoeld.2004.Filsafat Dakwah.Jakarta:PT Bulan Bintang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar